Pukul Empat

Biarkan nona asik dengan pintu dan coretannya yang acak
Nona redam dan terang dalam tanda baca yang tamak
Sebentar-sebentar mencela,
Kadangpula pujian-pujian tumpah,
 
Mata yang semakin mengabur
Mimpi-mimpi yang diimpikan terkubur
Pada akhirnya tekad memilih mundur
 
Yang dipinta nona ada justru tiada
Yang diharap nona datang justru berpulang
Nona kembali mengumpat, berdekap
Merapat dengan kata tidak sempat
Bergeming tanpa cakap
Pada pagi pukul empat.

Comments

Popular posts from this blog

Memasak Bukan Soal Memasak

Perempuan dengan Mata Musim Hujan

Sendiri Bukan Berarti Bebas (Opini#1)